Total Tayangan Halaman

Senin, 18 November 2019

Hidup & Cabaran

"Hidup & Cabaran"

Semakin tinggi pohon semakin kuat pula hempasan angin, yang dilakukan sebuah pohon agar tak mudah tumbang yaitu menguatkan akar dan memperdalam pokok akar sebagai pondasi yg kuat. Pohon tersebut diam-diam berkembang memperluas jaringan akar yang menjalar ke segala arah tanpa diketahui angin maupun badai yang kapanpun siap menghempasnya dan menumbangkannya.

Semakin tinggi pohon dan berbuah lebat maka semakin banyak pula yang melempari pohon tersebut untuk mendapatkan buahnya. Pohon pun hanya bisa diam dan mengikhlaskan dirinya terdzolimi, karena dia hidup oleh karunia Tuhan. Maka semakin ikhlas, Tuhan takkan membiarkan dia kekurangan dan kekeringan untuk tetap terus bertahan hidup.
Angin yang melihat kejadian tersebut cuma bertanya kepada pohon, "Hey pohon knapa kamu cuma diam saja saat dilempari oleh mereka demi memperoleh buahmu ?". Lalu pohon menjawab dengan santainya, "Biarkan saja mereka yang rakus dan ingin mendapatkan buahku dengan cara yang tak baik, paling cuma mereka gak akan bisa menikmati buahnya dengan enak, atau paling klo lagi apes muka mereka kena timpukan lemparan batu mereka sendiri". Angin pun menimpali jawaban pohon, "Coba klo mereka meminta dengan baik-baik pasti bisa menikmati manisnya buah dan takkan kena timpukan lemparan batu mereka sendiri". Pohon pun meneruskan pendapatnya, "Ya begitulah klo ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cara tidak baik, mereka pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal atau pun karmanya, ya gak,  ya gak, ya gak." Angin membalas jawaban pohon, "Iya iya iya, kamu benar pohon".
Hidup ini memang misteri, kadang kawan dan lawan itu beda tipis hampir tak bisa dibedakan. Angin yang kadang berteman dengan pohon menghasilkan oksigen dan bermanfaat bagi makhluk lain penduduk bumi ini, tapi terkadang pula jika sedang marah, angin bisa memporak porandakan bahkan bisa menumbangkan pohon yang tak berakar kuat. Kadang manusia yang baik yang menanam pohon dan merawatnya, tapi manusia lainnya berulah merusaknya dan klo berbuah dilempari. Sedikit banyak manusia yang baik merawat pohon dan jahat mendzolimi pohon. Ya itulah cabaran, ujian kehidupan. Kita bisa sabar menghadapinya atau kita akan kalah dengan keadaan. Semua makhluk Tuhan punya hak masing-masing, ada yang dapat memahaminya, ada juga yang tidak. Bahkan tak jarang terjadi sikut-sikutan dan saling menjatuhkan. Sebagai contohnya seekor monyet yang memanjat sebuah pohon. Kita semua tau betapa kuat dan cerdiknya seekor monyet, untuk urusan bergelayutan dipohon tidak usah diragukan lagi, sudah ahlinya. Ketika seekor singa mengejarnya dengan sigap si monyet memanjat pohon, bahkan digoncang-goncangkan pohonnya tidak jatuh. Si monyet malah semakin erat bergelayut dipohon dan memanjat semakin tinggi. Harus dengan apa untuk menjatuhkan si monyet yang bergelayut dipohon semakin tinggi tersebut agar supaya jatuh. Dengan angin yang kencang menghempas pohon tempat bergelayut, si monyet tidak jatuh juga malah semakin erat berpegangan dipohon. Ternyata kelemahan si monyet apa, tau jawabannya ? Sepele, hanya dinina bobokan dengan angin yang spoi-spoi si monyet yang memanjat semakin tinggi dan erat pegangannya tadi tertidur pulas oleh semilir angin spoi-spoi. Dengan sendirinya si monyet tadi jatuh gubrak dari ketinggian. Kita dapat memetik hikmah dari kejadian tersebut bahwa sepandai-pandainya seseorang pasti ada kelemahannya. Setinggi-tingginya seseorang punya jabatan dalam bidang apapun pada akhirnya akan terjatuh juga jika tidak jujur, terlena dengan duniawi.

Dunia yang fana ini sesungguhnya bagaikan fatamorgana, yang nampak cantik indah mempesona tapi sesungguhnya palsu. Keindahan sejati hanya bisa dilihat oleh hati yang bersih dan jujur, juga selalu bersyukur dan ingat pada sang Pencipta alam semesta ini. Kadang gemerlapnya duniawi dapat membutakan mata hati seseorang yang tak cukup memiliki ilmu hikmah yang dikaruniakan oleh Allah Swt.

Next page lanjutan artikel
"Hidup & Cabaran"

Setiap yang hidup mengalami ujian kehidupan karena sesungguhnya hidup ini adalah ujian. Klo tak mengalami ujian berarti makhluk tersebut sudah mati, hanya makhluk yang mati saja yang tak mengalami ujian, karenanya sudah tak ada aktifitas apa-apa lagi. Hidup ini adalah pergerakan, kalau tidak gerak maka berhentilah hidup ini. Seperti orang yang bersepeda, agar tetap berjalan sepeda tersebut maka kita tidak boleh berhenti mengayuhnya hingga sampai tempat tujuan. Begitu juga dengan kehidupan ini kalau kita tak bergerak atau beraktifitas maka takkan pernah sampai pada tujuan hidup kita. Apa tujuan hidup kita ? Tujuan hidup kita yaitu dunia dan akhirat harus seimbang, kita bekerja untuk duniawi harus diimbangi dengan ikhtiar dan doa, beribadah secara berkala. Segala sesuatu memang harus seimbang, klo hidup hanya memikirkan duniawi maka akhiratnya akan njomplang, orang jawa bilang. Begitu juga apabila hidup ini hanya untuk memikirkan akhirat saja maka dunianya juga akan jomplang. Beribadah terus menerus tanpa bekerja juga tidak baik, maka kehidupan dunia tak akan harmonis karena tidak fleksibel. Orang yang hidup hanya untuk duniawi saja tanpa beribadah namanya sombong kepada sang pencipta yaitu Allah. Karena ikhtiar tanpa doa dan ibadah adalah sia-sia, begitu juga doa tanpa ikhtiar, maka nihil doanya tak terealisasi. Segala sesuatu dalam kehidupan yang terpampang nyata ini memang seharusnya seimbang, karena hidup yang indah itu adalah sebuah harmoni. Dalam setiap peristiwa yang terjadi pada kehidupan pasti ada hikmahnya maka pandai-pandailah bersyukur dan memetik hikmahnya, maka kita akan selalu merasa bahagia. Tetap terus berkarya menjadi manfaat bagi orang banyak. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi renungan para pembaca dan pelanggan setia majalah Femina.

Written by Marwanti, A.Md (Marwah)
Marwanti Marwahqurotaayun, A.Md
Mampang prapatan, Jakarta Selatan
Wa: 085726985181, emai: marwahqurotaayun@gmail.com
#uuhakcipta#blogger
#marwah#marwahqu
#marwahqurotaayun
#marwantimarwahqurotaayun
#scriptwriter#songwriter#bookwriter
@marwah_qurotaayun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar