Total Tayangan Halaman

Senin, 29 Desember 2014

KABUT SENJA DI BATAS KOTA

HIDAYAH

Naskah film                     :Lomba film ftv di sctv ( film untuk dakwah)
Script writer oleh             : Marwah
Para Pemeran                   :1.Aminah ( seorang wanita sholehah yang cantik dan anggun )
                                          2.Adnan (seorang pria sholeh yang tampan dan sabar )
                                          3.Evan (sahabat adnan)
                                          4.Bu Halimah (Ibu Aminah)
                                          5.Pak Ahmad (Ayah Aminah)
                                          6.Hendri ( Teman Aminah)
                                          7.Ustad Yusuf (Guru mengaji Aminah)
                                          8.Putra (Pacar pertama Aminah)
                                          9.Johan (adalah laki-laki misterius, kaya raya yang munafik, pendiam       tapi     jahat dan bengis,sombong,menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, dan di akhir hidupnya meninggal dunia dengan azab Alloh yang sangat pedih).

“KABUT SENJA DI BATAS KOTA”

                Aminah adalah seorang gadis yang lugu dan polos, rendah hati serta sopan santun sehingga banyak orang menyayanginya. Aminah adalah anak tunggal dari  pasangan suami istri bapak Ahmad dan bu Halimah.Pak Ahmad bekerja di kantor kelurahan dan ibu Halimah seorang wiraswasta usaha jahitan, menerima jahitan seragam-seragam sekolah di kampung. Kehidupan keluarga Aminah sangat sederhana dan bersahaja, karena ayah Aminah selain bekerja di kantor kelurahan yang jujur dan bersahaja juga seorang ustad sehingga semua orang menghormatinya dan segan kepada beliau meskipun kehidupannya sederhana.
                Setelah lulus sekolah menengah atas Aminah melanjutkan pendidikan Diploma 1 jurusan Administrasi, dan setelah  itu dari pihak lembaga pendidikan menyalurakan tenaga kerja tetapi di luar kota. Dan Aminah salah satu yang terpilih untuk bekerja di salah satu instansi di Jakarta. Aminah senang dengan pekerjaannya dan di Jakarta Aminah di pertemukan seorang pemuda yang sholeh dan bersahaja, dia adalah Putra seorang Sarjana Ekonomi yang bekerja sebagai akuntan di sebuah Bank. Mereka berdua merasa ada kecocokan dan mereka menjalin hubungan, yang nantinya akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius.
Selama setahun mereka sudah menjalin hubungan, tiba-tiba Aminah mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras karena kangen dengan putri kesayangan satu-satunya. Aminah minta izin pulang untuk menengok ibunya yang sedang sakit, dan saat pulang, ibunya tidak mengizinkan lagi Aminah bekerja di Jakarta. Ibu Aminah ingin anaknya bekerja di sekitar tempat tinggalnya saja agar ibunya bisa melihat Aminah setiap hari. Lalu Aminah kembali ke Jakarta untuk mengajukan surat resign, dan melanjutkan bekerja selama sebulan.Aminah berpamitan kepada Putra bahwa Aminah akan segera pulang ke Jogja, buat Putra ini adalah sebuah keputusan yang sangat sulit dan sangat mendadak, karena segala sesuatu butuh planning buat Putra karena pekerjaannya tak bisa ditinggalkan begitu saja. “Baiklah Aminah kali ini kamu pulang sendirian dulu naik pesawat saja biar aku yang akan membelikan tiket pesawat untukmu, karena pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Nanti kita tetep berkomunikasi lewat telefon saja, dan suatu saat nanti aku pasti datang untuk melamarmu, percaya padaku ya”.
Setelah beberapa bulan berlalu Aminah merasakan jenuh tinggal dirumah tidak ada kegiatan, dan Aminah memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi. Aminah memberikan kabar kepada Putra bahwa dirinya sekarang kuliah lagi, dan Putra tentunya sangat senang dengan kabar tesebut dan mendukungnya. Setelah setahun berlalu Aminah menunggu kedatangan Putra yang berjanji akan melamarnya tapi tak kunjung datang, Putra yang belum pernah sama sekali datang ke rumah Aminah dan hanya punya nomor hand phone Aminah saja. Pada saat Putra akan di pindahkan ke kantor lain, dia berusaha menghubungi Aminah akan tetapi HP Aminah tidak dapat dihubungi,ternyata masa tenggang pulsa Aminah sudah habis dan tidak diisikan lagi karena pulsanya masih banyak, sehingga Aminah harus mengganti nomor hp yang baru dan berusaha menghubungi kantor tempat Putra bekerja,tetapi pihak kantor memberitahukan bahwa Putra sudah pindah bekerja, nomor HP nya pun sudah tidak aktif lagi. Akan tetapi Aminah tetap setia menunggu keajaiban dari Alloh.
                Aminah seorang gadis yang rajin beribadah dan rajin membantu ayahnya mengajari mengaji anak-anak untuk Iqro’ atau belajar membaca Al-Qur’an di masjid kampungnya.Aminah adalah seorang mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda, karena Aminah pintar berbahasa Inggris ketika pulang kuliah dia sambil bekerja mengajar les bahasa Inggris. Dan setelah lulus kuliah Aminah di tawari bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan financial, karena kemampuan berkomunikasi yang cukup baik dan sopan juga seorang gadis yang disiplin, dengan cepat dia naik jabatan menjadi staff marketing, dan atasannya sangat suka dengan etos kerjanya yang semangat, disiplin dan jujur.
                Setelah lulus D III, Aminah melanjutkan untuk kuliah lagi menyelesaikan S1 jurusan sastra bahasa Inggris.Saat waktu senggang Aminah tetap menyempatkan diri untuk tetap mengajar TPA di masjid kampungnya.Dalam kehidupan yang sederhana dan bersahaja sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi dan ayah Aminah mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan haji, sehingga 15 tahun yang akan datang pak Ahmad dan bu Halimah akan menunaikan ibadah haji. Pak Ahmad juga menasehati Aminah “ Nak, jika nanti kerjamu sudah menetap dan kamu merasa nyaman dengan pekerjaanmu, sisihkanlah sebagian gajimu untuk tabungan haji seperti ayah. Sehingga nanti kamu bisa menunaikan ibadah haji di usia mudamu, tidak usah menunggu di hari tua.” Dan Aminah selalu mendengarkan semua nasehat ayahnya yang bijaksana.

                Selain bekerja dan mengajar TPA di masjid kampungnya, Aminah juga rajin datang ke majelis pengajian di masjid-masjid , Aminah pun masih rajin memperbanyak ilmu agama dan masih terus belajar Al-Qur’an. Aminah selalu mengikuti belajar seni baca Al-Qur’an tilawah atau Qiroah di salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an. Buat Aminah belajar itu tidak terbatas, dia merasa masih banyak yang perlu dipelajari. Karena buat Aminah Al-Qur’an sangat penting dalam kehidupannya.
                Pada saat libur kerja Aminah menghabiskan waktunya bersama ayah dan ibunya dirumah, akan tetapi suatu hari Aminah merasa jenuh di rumah terus karena menunggu kedatangan Putra yang tak kunjung datang, dan mulai saat itu Aminah memilih untuk sendiri atau lebih tepatnya single yang setia pada kekasih hatinya. Hari itu begitu cerah, Aminah berpamitan pada ayah dan ibunya keluar sebentar untuk mencari suasana alam dan mencari angin segar. Aminah pergi kesebuah taman dengan suasana gemercik air terjun kecil yang cukup indah dengan udara yang sejuk. Aminah menemukan ketenangan di tempat tersebut, dan Aminah sering datang ke tempat tersebut saat merasa jenuh.Sambil menulis puisi-puisi yang indah dan menikmati keindahan ciptaan Alloh.
                Saat sendiri duduk di taman, datanglah seorang pemuda yang bernama Adnan. Pemuda yang terlihat lebih muda, tampan dan sopan menyapa Aminah sambil duduk disampingnya, “Sendirian saja mbak, boleh saya duduk disini menemani ?” Dan Aminah menjawabnya “Silahkan saja”. Akhirnya mereka saling berkenalan dan bertukar nomor telefon, akan tetapi Aminah menerima perkenalan tersebut hanya sebagai teman saja karena Aminah sudah mempunyai kekasih yang berada di Jakarta.
                Setelah beberapa bulan perkenalan tersebut Adnan datang ke rumah Aminah dan berkenalan dengan orang tua Aminah. Adnan menyatakan cinta kepada Aminah dan memberitahukan kepada Aminah, bahwa dia adalah cinta pertamanya dan satu-satunya wanita yang telah mampu membuatnya jatuh cinta. Aminah menjawab, “ Maafkan aku Adnan beri saya waktu untuk berfikir dulu karena saya sudah punya seorang kekasih yang telah berjanji akan melamar saya, sekarang dia masih berada di Jakarta, sebaiknya kita berteman saja dulu” Adnan pun menjawab dengan berbesar hati, “Baiklah Aminah saat ini kita berteman dulu tapi suatu saat jika pacar kamu itu tidak pernah datang, maka aku yang akan jadi milikmu dan setia menemanimu saat susah maupun senang”.
                Sejak saat itu setiap malam minggu Aminah dan Adnan sering pergi makan malam, dan pada saat makan malam datanglah Evan bersama pacarnya juga. Evan adalah sahabat Adnan, lalu memperkenalkan pada keduanya. Mereka saling bercerita banyak tentang pengalaman masing-masing hingga hampir malam, lalu Aminah mengajak pulang Adnan karena sudah jam setengah sembilan malam. Aminah di perbolehkan keluar malam bersama Adnan, tetapi ayahnya membatasi waktu hanya sampai jam 20.30 wib.
                Pada suatu hari Aminah pergi ke perpustakaan kota sendirian tanpa ditemani Adnan, saat mencari buku bertemulah Aminah dengan Evan, lalu duduk di ruang baca. Evan menanyakan kepada Aminah.
Evan      : “Sebenarnya kamu dan Adnan berpacaran tidak sih?”
Aminah                : “ Hubungan kami sebatas berteman saja, memang kenapa?”
Evan      : “Bagaimana kalau kamu menjadi pacar saya saja, mau atau tidak?”
Aminah                : (Wanita yang biasa kalem dan bertutur kata lemah lembut, lalu menjawab dengan tegas)
 “ Tentu saja tidak, kamu sudah mempunyai pacar, kamu pikir cinta itu apa, kamu pikir
Wanita mudah untuk dipermainkan, kamu bisa tidak sih menghargai perasaan wanita?
 Aku menganggap Adnan hanya sebagai teman ada alasannya,  karena saya
                sudah punya pacar yang setia di Jakarta, yang berjanji akan melamar saya, mengerti!”
                 “Terus kamu anggap saya ini apa, menurut kamu cinta itu apa?”
                Kamu dan Adnan juga bersahabat, apa kamu mau mengkhianati persahabatan kalian?
Evan      : “Maafkan saya Aminah, saya Cuma bercanda?”
Aminah                : “ Kamu pikir hidup ini bercanda, sendau gurau belaka.”
                 “Sudahlah lupakan, anggap saja kamu tidak pernah mengatakan apa-apa padaku,
                 Tapi ingat jangan sampai terulang lagi, hargai perasaan pacar kamu, mengerti!”
                “ Aku pulang duluan, Assalamu’alaikum.”
Evan      :”Wa’alaikumussalam wr wb”.

                Setelah kejadian tersebut Aminah jarang keluar sendiri jika tidak ditemani Adnan, bahkan berangkat kuliah pun Aminah diantar oleh Adnan meskipun masih berstatus sebagai teman. Adnan telah berhasil mengambil hati Aminah untuk menjadikannya spesial dihatinya. Orang tua Aminah pun sudah mempercayakan Adnan untuk menjaga dan menjadi teman spesial Aminah. Adnan selalu mengantar Aminah pergi dan membantu Aminah menyelesaikan tugas-tugas kampus. Lama kelamaan Aminah merasa tidak tega, melihat kesungguhan dan ketulusan hati Adnan lalu Aminah memberanikan diri bertanya pada Adnan.
Aminah                : “ Apakah perasaanmu terhadapku masih sama seperti dulu, Adnan?”
Adnan   :” Maksudya apa Aminah?”
Aminah                :”Apakah perasaanmu padaku masih sama seperti dulu waktu pertama kali kamu
                 Mengatakan cinta padaku?”
Adnan   :”Tentu saja Aminah perasaanku padamu tidak akan pernah berubah, aku akan selalu
                 Mencintaimu”.
               

Mulai saat itu mereka sering bersama-sama dan menjalani rutinitas apa adanya, saling jujur dan tebuka satu sama lain, saling berbagi suka dan duka. Dan Adnan mulai berfikir untuk melamar Aminah setelah lulus kuliah nanti. Setiap kali Aminah akan berangkat mengaji, Adnan mengantarnya sampai pintu gerbang dan akan menjemputnya setelah selesai mengaji. Aminah yang pembawaannya kalem, sopan dan lemah lembut membuat ustad yang mengajari mengaji memperhatikannya dan penasaran ingin mengetahui keberadaan keluarganya. Suatu hari ustad Yusuf datang ke rumah menemui orang tua Aminah dan menanyakan apakah Aminah sudah memiliki pacar atau belum. Seorang ustad tersebut bermaksud ingin melamar Aminah jika belum memiliki pacar, akan tetapi orang tuanya memberitahukan bahwa Aminah sudah memiliki pacar, dan akhirnya ustad tersebut mengurungkan niat baiknya tanpa sepengetahuan Aminah.
                Selain mengaji mempelajari Al-Qur’an, Aminah juga rajin mendatangi majelis pengajian dari kampus ke kampus, dan bertemu dengan seorang presenter TV yang bernama Hendri , yang pada saat itu membawakan acara pengajian tersebut. Hendri memberikan nomor hand phonenya kepada Aminah, akan tetapi Aminah hanya menganggap Hendri sebagai teman biasa saja. Suatu hari Hendri datang kerumah Aminah menanyakan kepada orang tuanya yang bermaksud ingin melamar Aminah, jika belum memiliki pacar, Orang tua Aminah mengatakan bahwa Aminah sudah memiliki pacar. Setelah itu ada lagi laki-laki yang tidak dikenal tiba-tiba datang ke orang tua Aminah dan menanyakan Aminah. Maksud kedatangannya ingin menjodohkan dengan seseorang  yang tanpa identitas atau ciri-ciri orang yang mau di jodohkan, tentu saja Aminah dan orang tuanya heran dengan kedatangan tamu tak dikenal tersebut, dan orang tua Aminah mengatakan pada laki-laki tak dikenal tersebut,”Mohon maaf Aminah sudah memiliki kekasih yang mungkin akan segera menikahinya, Aminah juga tidak suka di jodohkan. Dia gadis penurut dengan orang tua tapi soal jodoh, dia yang menentukannya sendiri. Biar dia sendiri yang menentukan masa depan dan kebahagiaannya, kami sebagai orang tua hanya mengarahkannya saja. Tugas kami membesarkannya dan membimbingnya hingga tumbuh dewasa, tapi setelah menikah kami serahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada suaminya kelak”.Lalu laki-laki tersebut pulang dan tak pernah kembali lagi.
                Setelah kedatangan laki-laki tak dikenal tarsebut ada saja cobaan yang menimpa Aminah dan keluarganya.Ternyata laki-laki tak dikenal tersebut adalah orang suruhan Johan, dia marah karena tak bisa mendapatkan cinta Aminah, karena Aminah sendiri tidak pernah mengenal siapa Johan. Lalu dia menyuruh seseorang lagi untuk memberikan makanan yang sudah diberi racun untuk diberikan kepada Aminah melalui temannya Evan sebagai permintaan maaf, tanpa diketahui dari mana asal makanan tersebut dan tanpa curiga Aminah memakannya. Setelah itu perut Aminah merasa mules dan mual, lalu memuntahkannya sampai habis semua isi perutnya dan mengalami dehidrasai. Aminah mengalami koma selama tiga hari dan selama seminggu dalam perawatan dirumah sakit, wajahnya pucat pasi. Setelah sadar Aminah berdoa dan memperbanyak berdzikir pada Alloh, “Ya Alloh cobaan apalagi yang Engkau timpakan kepada hamba, janganlah Engkau memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba sanggup menjalaninya”. (Aminah berdoa hingga meneteskan air mata). Setelah kejadian tersebut Adnan lebih memperhatikan dan menjaga Aminah.
                Setelah beberapa bulan dari perkenalan Aminah dan Hendri, lalu mendapat kabar bahwa Hendri menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya, dan Aminah hadir ke pesta pernikahan tersebut bersama Adnan. Aminah mengucapkan selamat menempuh hidup baru semoga bahagia kepada Hendri.
 Adnan mengetahui bahwa banyak laki-laki yang ingin melamar Aminah, karena Aminah berkeluh kesah pada Adnan.
Aminah                : “Adnan kamu tau kan kalau saya sudah berkomitmen dengan satu orang, maka aku akan
                  Setia, dan sekarang banyak laki-laki yang ingin melamarku. Aku bukannya bangga dengan
                  Ini semua, tapi justru menjadi beban batin buat aku”.
Adnan   : “Terus aku harus bagaimana?”
Aminah: “Kamu mengerti arah pembicaraanku atau tidak Adnan, lakukan sesuatu kalau kamu benar-
                  Benar mencintaiku dan gak mau aku dimiliki orang lain”.
Adnan   : “ Baiklah Aminah aku akan segera melamarmu dan memberikan cincin pertunangan
                  Sebagai pengikat cinta kita”.
Aminah                : “Begitu dong, aku kan jadi tenang, terimakasih ya Adnan”.
Adnan   : (Tersenyum dan mencium kening Aminah ).

                Aminah berbicara kepada orang tuanya bahwa Adnan akan segera melamarnya dan mereka merestuinya. Aminah dan Adnan melakukan pertunangan di sebuah masjid dengan mengucap kalimat Syahadat dan basmallah dengan disaksikan oleh seorang ustad dan para jamaah. Dan nanti setelah lulus kuliah mereka akan melangsungkan akad nikah di KUA.
Aminah masih merasakan ada kejanggalan yang terjadi pada dirinya dan pada suatu hari Aminah merasa tidak enak perasaannya gelisah, ada sesuatu yang tidak lazim pada dirinya sehingga Aminah datang kepada seorang ustad. Aminah disarankan untuk memperbanyak berdzikir dan membaca surat Al-Baqarah selama empat puluh hari, maka guna-guna atau apapun yang berniat jahat kepada diri Aminah akan musnah dan akan kembali kepada yang berbuat itu sendiri, atas izin Alloh apapun bisa terjadi dengan sekejab.
Setelah genap empat puluh hari Aminah menyelesaikan membaca surat Al-Baqarah, orang yang berniat jahat terhadap Aminah tersebut mengalami sakit muntah darah yang begitu hebat,  masuk rumah sakit dan meninggal dunia. Akhirnya Aminah mengetahui bahwa orang musyrik yang telah berniat jahat kepadanya  adalah Johan,tempat yang pantas untuk orang musyrik ya di neraka jahanam bersama syetan dan iblis. Dalam hati Aminah berkata “Itu akibat dari kejahatannya sendiri,yang penting saya tidak mendzolimi siapapun, aku hanya melindungi diriku dari yang jahat. Dia menerima sakit karena kejahatannya sendiri, semuanya terjadi atas izin Alloh”.
Akhirnya semua terjawab sudah bahwa yang berbuat jahat kepada keluaga Aminah selama ini adalah Johan, yang membuat ayah Aminah lumpuh akibat kecelakaan dan akhirnya harus menggunakan kursi roda. Johan membayar orang untuk menabrak dari belakang, tapi jangan sampai ketahuan, buat seolah-olah murni kecelakaan. Orang bayaran tersebut melakukannya dengan rapi, menabrak ayah Aminah sehingga tulang belakangya retak dan kakinya lumpuh.Orang picik seperti Johan hanya Alloh yang bisa mengadilinya.
Dan orang  yang menabrak Aminah dari belakang hingga tubuh Aminah terjungkal dari motornya dan motornya sampai terpelanting jauh dari tubuhnya. Pada saat itu kaki Aminah retak sehingga tidak bisa berjalan dan jatuh terlentang ditengah jalan raya tak seorang pun melihatnya karena yang menabraknya melarikan diri. Tiba-tiba dalam gelap malam tersebut terlihat sorot lampu bus dan mobil yang akan menabrak tubuhnya, dengan mu’jizat Alloh Aminah bisa bangun dan berlari ke tepi jalan, akan tetapi setelah itu Aminah tidak bisa berjalan lagi dan tak sadarkan diri, lalu dibawa kerumah sakit, di ruang IGD Aminah dirawat dan mengalami sedikit gangguan pada otaknya karena benturan yang sangat keras di kepalanya, tubuh Aminah menggigil kejang dari ujung kakinya dingin dan pucat pasi. Aminah mengalami sakaratul maut, akan tetapi Alloh belum menghendaki Aminah meninggal dunia sehingga Aminah berhasil selamat dari kritisnya.
Aminah yang selama ini terkenal dengan gadis sopan dengan tutur kata yang lemah lembut, bisa marah juga dan berkata dalam hati “Kok ada ya manusia yang jahatnya melebihi iblis, biar saja semua kejahatanmu itu akan kamu rasakan diakhir hidupmu, karena Alloh Maha Melihat dan Maha Mengetahui,diampuni atau tidak itu urusan Alloh”. Aku hanya wanita lemah, akan tetapi aku kuat karena Alloh, Alloh dan Al-Qur’an yang akan melindungiku, sebagai pedoman dan petunjuk hidupku. Semua yang terjadi serahkan pada Alloh, biar Alloh yang akan mengadilinya, dia mau bertobat atau tidak itu urusan dia sendiri dengan Tuhannya, yang akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Alloh.
Dengan semua kejadian yang menimpa Aminah dan keluarganya membuatnya semakin dekat dengan Alloh, dan lebih rajin membaca Al-Qur’an. Aminah sangat mencintai Al-Qur’an seperti dirinya mencintai Alloh. Dengan mu’jizat-mu’jizat yang diberikan oleh Alloh dan ayat-ayat Al-Qur’an  yang membuat hati Aminah menjadi tentram,tenang dan lebih sabar, menjalani hidup ini dengan lebih ikhlas lillahita’alla. Aminah merasa hidupnya lebih bahagia dan dipertemukan seorang pemuda yang sangat menyayanginya meski usianya lebih muda dari Aminah.Aminah tidak pernah menyangka bahwa dia akan berjodoh dengan pemuda tersebut, itulah rahasia Alloh.
Akhirnya Aminah dan Adnan menikah,mereka berdua menunaikan ibadah haji bersama-sama  karena sejak masih muda sudah rajin menabung tabungan haji di Bank Pembangunan Daerah dan kebetulan Adnan adalah seorang mualaf yang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah. Bahkan ketaatannya melebihi seorang muslim yang sudah memeluk agama Islam sejak lahir, mungkin ini adalah sebuah hidayah dari Alloh swt. Mereka berdua hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak yang comel. Pernikahan mereka diniatkan untuk menyempurnakan ibadah kepada Alloh swt dan mendapat ridhonya agar menjadi pasangan suami istri untuk dunia dan akhirat, dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, amin ya rabbal ‘alamin.

-----------------------------------------------------------THE END---------------------------------------------------------

HAPPY ENDING
“Kabut Senja di batas kota”
Seiring waktu berjalan,awan berarak
Kabut tebal menyelimuti senja
Dalam pekatnya malam berhias bintang
Datanglah sang mentari pagi cerahkan dunia
Sambut duniamu dengan senyum ceria


“Jazzakillah khoiron katsiron”

Script writer: Marwah
Yogyakarta

Thanks To:
Alloh
Orang Tua Dan Keluarga
Aba Sinema Yogyakarta
Teman-Teman Yang Bermanfaat Buat Marwah
Dan Orang-Orang Yang Selalu Mendukung Marwah Dalam Belajar
MARWAH (3).jpg




 HIDAYAH

Naskah film                        :Lomba film ftv di sctv ( film untuk dakwah)
Script writer oleh             : Marwah
Para Pemeran                   :1.Aminah ( seorang wanita sholehah yang cantik dan anggun )
                                                 2.Adnan (seorang pria sholeh yang tampan dan sabar )
                                                 3.Evan (sahabat adnan)
                                                4.Bu Halimah (Ibu Aminah)
                                                5.Pak Ahmad (Ayah Aminah)
                                                6.Hendri ( Teman Aminah)
                                                7.Ustad Yusuf (Guru mengaji Aminah)
                                                8.Putra (Pacar pertama Aminah)
                                                9.Johan (adalah laki-laki misterius, kaya raya yang munafik, pendiam tapi     jahat dan bengis,sombong,menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, dan di akhir hidupnya meninggal dunia dengan azab Alloh yang sangat pedih).

“KABUT SENJA DI BATAS KOTA”

                Aminah adalah seorang gadis yang lugu dan polos, rendah hati serta sopan santun sehingga banyak orang menyayanginya. Aminah adalah anak tunggal dari  pasangan suami istri bapak Ahmad dan bu Halimah.Pak Ahmad bekerja di kantor kelurahan dan ibu Halimah seorang wiraswasta usaha jahitan, menerima jahitan seragam-seragam sekolah di kampung. Kehidupan keluarga Aminah sangat sederhana dan bersahaja, karena ayah Aminah selain bekerja di kantor kelurahan yang jujur dan bersahaja juga seorang ustad sehingga semua orang menghormatinya dan segan kepada beliau meskipun kehidupannya sederhana.
                Setelah lulus sekolah menengah atas Aminah melanjutkan pendidikan Diploma 1 jurusan Administrasi, dan setelah  itu dari pihak lembaga pendidikan menyalurakan tenaga kerja tetapi di luar kota. Dan Aminah salah satu yang terpilih untuk bekerja di salah satu instansi di Jakarta. Aminah senang dengan pekerjaannya dan di Jakarta Aminah di pertemukan seorang pemuda yang sholeh dan bersahaja, dia adalah Putra seorang Sarjana Ekonomi yang bekerja sebagai akuntan di sebuah Bank. Mereka berdua merasa ada kecocokan dan mereka menjalin hubungan, yang nantinya akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius.
Selama setahun mereka sudah menjalin hubungan, tiba-tiba Aminah mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras karena kangen dengan putri kesayangan satu-satunya. Aminah minta izin pulang untuk menengok ibunya yang sedang sakit, dan saat pulang, ibunya tidak mengizinkan lagi Aminah bekerja di Jakarta. Ibu Aminah ingin anaknya bekerja di sekitar tempat tinggalnya saja agar ibunya bisa melihat Aminah setiap hari. Lalu Aminah kembali ke Jakarta untuk mengajukan surat resign, dan melanjutkan bekerja selama sebulan.Aminah berpamitan kepada Putra bahwa Aminah akan segera pulang ke Jogja, buat Putra ini adalah sebuah keputusan yang sangat sulit dan sangat mendadak, karena segala sesuatu butuh planning buat Putra karena pekerjaannya tak bisa ditinggalkan begitu saja. “Baiklah Aminah kali ini kamu pulang sendirian dulu naik pesawat saja biar aku yang akan membelikan tiket pesawat untukmu, karena pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Nanti kita tetep berkomunikasi lewat telefon saja, dan suatu saat nanti aku pasti datang untuk melamarmu, percaya padaku ya”.
Setelah beberapa bulan berlalu Aminah merasakan jenuh tinggal dirumah tidak ada kegiatan, dan Aminah memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi. Aminah memberikan kabar kepada Putra bahwa dirinya sekarang kuliah lagi, dan Putra tentunya sangat senang dengan kabar tesebut dan mendukungnya. Setelah setahun berlalu Aminah menunggu kedatangan Putra yang berjanji akan melamarnya tapi tak kunjung datang, Putra yang belum pernah sama sekali datang ke rumah Aminah dan hanya punya nomor hand phone Aminah saja. Pada saat Putra akan di pindahkan ke kantor lain, dia berusaha menghubungi Aminah akan tetapi HP Aminah tidak dapat dihubungi,ternyata masa tenggang pulsa Aminah sudah habis dan tidak diisikan lagi karena pulsanya masih banyak, sehingga Aminah harus mengganti nomor hp yang baru dan berusaha menghubungi kantor tempat Putra bekerja,tetapi pihak kantor memberitahukan bahwa Putra sudah pindah bekerja, nomor HP nya pun sudah tidak aktif lagi. Akan tetapi Aminah tetap setia menunggu keajaiban dari Alloh.
                Aminah seorang gadis yang rajin beribadah dan rajin membantu ayahnya mengajari mengaji anak-anak untuk Iqro’ atau belajar membaca Al-Qur’an di masjid kampungnya.Aminah adalah seorang mahasiswi yang sebentar lagi akan wisuda, karena Aminah pintar berbahasa Inggris ketika pulang kuliah dia sambil bekerja mengajar les bahasa Inggris. Dan setelah lulus kuliah Aminah di tawari bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan financial, karena kemampuan berkomunikasi yang cukup baik dan sopan juga seorang gadis yang disiplin, dengan cepat dia naik jabatan menjadi staff marketing, dan atasannya sangat suka dengan etos kerjanya yang semangat, disiplin dan jujur.
                Setelah lulus D III, Aminah melanjutkan untuk kuliah lagi menyelesaikan S1 jurusan sastra bahasa Inggris.Saat waktu senggang Aminah tetap menyempatkan diri untuk tetap mengajar TPA di masjid kampungnya.Dalam kehidupan yang sederhana dan bersahaja sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi dan ayah Aminah mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan haji, sehingga 15 tahun yang akan datang pak Ahmad dan bu Halimah akan menunaikan ibadah haji. Pak Ahmad juga menasehati Aminah “ Nak, jika nanti kerjamu sudah menetap dan kamu merasa nyaman dengan pekerjaanmu, sisihkanlah sebagian gajimu untuk tabungan haji seperti ayah. Sehingga nanti kamu bisa menunaikan ibadah haji di usia mudamu, tidak usah menunggu di hari tua.” Dan Aminah selalu mendengarkan semua nasehat ayahnya yang bijaksana.

                Selain bekerja dan mengajar TPA di masjid kampungnya, Aminah juga rajin datang ke majelis pengajian di masjid-masjid , Aminah pun masih rajin memperbanyak ilmu agama dan masih terus belajar Al-Qur’an. Aminah selalu mengikuti belajar seni baca Al-Qur’an tilawah atau Qiroah di salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an. Buat Aminah belajar itu tidak terbatas, dia merasa masih banyak yang perlu dipelajari. Karena buat Aminah Al-Qur’an sangat penting dalam kehidupannya.
                Pada saat libur kerja Aminah menghabiskan waktunya bersama ayah dan ibunya dirumah, akan tetapi suatu hari Aminah merasa jenuh di rumah terus karena menunggu kedatangan Putra yang tak kunjung datang, dan mulai saat itu Aminah memilih untuk sendiri atau lebih tepatnya single yang setia pada kekasih hatinya. Hari itu begitu cerah, Aminah berpamitan pada ayah dan ibunya keluar sebentar untuk mencari suasana alam dan mencari angin segar. Aminah pergi kesebuah taman dengan suasana gemercik air terjun kecil yang cukup indah dengan udara yang sejuk. Aminah menemukan ketenangan di tempat tersebut, dan Aminah sering datang ke tempat tersebut saat merasa jenuh.Sambil menulis puisi-puisi yang indah dan menikmati keindahan ciptaan Alloh.
                Saat sendiri duduk di taman, datanglah seorang pemuda yang bernama Adnan. Pemuda yang terlihat lebih muda, tampan dan sopan menyapa Aminah sambil duduk disampingnya, “Sendirian saja mbak, boleh saya duduk disini menemani ?” Dan Aminah menjawabnya “Silahkan saja”. Akhirnya mereka saling berkenalan dan bertukar nomor telefon, akan tetapi Aminah menerima perkenalan tersebut hanya sebagai teman saja karena Aminah sudah mempunyai kekasih yang berada di Jakarta.
                Setelah beberapa bulan perkenalan tersebut Adnan datang ke rumah Aminah dan berkenalan dengan orang tua Aminah. Adnan menyatakan cinta kepada Aminah dan memberitahukan kepada Aminah, bahwa dia adalah cinta pertamanya dan satu-satunya wanita yang telah mampu membuatnya jatuh cinta. Aminah menjawab, “ Maafkan aku Adnan beri saya waktu untuk berfikir dulu karena saya sudah punya seorang kekasih yang telah berjanji akan melamar saya, sekarang dia masih berada di Jakarta, sebaiknya kita berteman saja dulu” Adnan pun menjawab dengan berbesar hati, “Baiklah Aminah saat ini kita berteman dulu tapi suatu saat jika pacar kamu itu tidak pernah datang, maka aku yang akan jadi milikmu dan setia menemanimu saat susah maupun senang”.
                Sejak saat itu setiap malam minggu Aminah dan Adnan sering pergi makan malam, dan pada saat makan malam datanglah Evan bersama pacarnya juga. Evan adalah sahabat Adnan, lalu memperkenalkan pada keduanya. Mereka saling bercerita banyak tentang pengalaman masing-masing hingga hampir malam, lalu Aminah mengajak pulang Adnan karena sudah jam setengah sembilan malam. Aminah di perbolehkan keluar malam bersama Adnan, tetapi ayahnya membatasi waktu hanya sampai jam 20.30 wib.
                Pada suatu hari Aminah pergi ke perpustakaan kota sendirian tanpa ditemani Adnan, saat mencari buku bertemulah Aminah dengan Evan, lalu duduk di ruang baca. Evan menanyakan kepada Aminah.
Evan      : “Sebenarnya kamu dan Adnan berpacaran tidak sih?”
Aminah                : “ Hubungan kami sebatas berteman saja, memang kenapa?”
Evan      : “Bagaimana kalau kamu menjadi pacar saya saja, mau atau tidak?”
Aminah                : (Wanita yang biasa kalem dan bertutur kata lemah lembut, lalu menjawab dengan tegas)
 “ Tentu saja tidak, kamu sudah mempunyai pacar, kamu pikir cinta itu apa, kamu pikir
Wanita mudah untuk dipermainkan, kamu bisa tidak sih menghargai perasaan wanita?
 Aku menganggap Adnan hanya sebagai teman ada alasannya,  karena saya
                sudah punya pacar yang setia di Jakarta, yang berjanji akan melamar saya, mengerti!”
                 “Terus kamu anggap saya ini apa, menurut kamu cinta itu apa?”
                Kamu dan Adnan juga bersahabat, apa kamu mau mengkhianati persahabatan kalian?
Evan      : “Maafkan saya Aminah, saya Cuma bercanda?”
Aminah                : “ Kamu pikir hidup ini bercanda, sendau gurau belaka.”
                 “Sudahlah lupakan, anggap saja kamu tidak pernah mengatakan apa-apa padaku,
                 Tapi ingat jangan sampai terulang lagi, hargai perasaan pacar kamu, mengerti!”
                “ Aku pulang duluan, Assalamu’alaikum.”
Evan      :”Wa’alaikumussalam wr wb”.

                Setelah kejadian tersebut Aminah jarang keluar sendiri jika tidak ditemani Adnan, bahkan berangkat kuliah pun Aminah diantar oleh Adnan meskipun masih berstatus sebagai teman. Adnan telah berhasil mengambil hati Aminah untuk menjadikannya spesial dihatinya. Orang tua Aminah pun sudah mempercayakan Adnan untuk menjaga dan menjadi teman spesial Aminah. Adnan selalu mengantar Aminah pergi dan membantu Aminah menyelesaikan tugas-tugas kampus. Lama kelamaan Aminah merasa tidak tega, melihat kesungguhan dan ketulusan hati Adnan lalu Aminah memberanikan diri bertanya pada Adnan.
Aminah                : “ Apakah perasaanmu terhadapku masih sama seperti dulu, Adnan?”
Adnan   :” Maksudya apa Aminah?”
Aminah                :”Apakah perasaanmu padaku masih sama seperti dulu waktu pertama kali kamu
                 Mengatakan cinta padaku?”
Adnan   :”Tentu saja Aminah perasaanku padamu tidak akan pernah berubah, aku akan selalu
                 Mencintaimu”.
               

Mulai saat itu mereka sering bersama-sama dan menjalani rutinitas apa adanya, saling jujur dan tebuka satu sama lain, saling berbagi suka dan duka. Dan Adnan mulai berfikir untuk melamar Aminah setelah lulus kuliah nanti. Setiap kali Aminah akan berangkat mengaji, Adnan mengantarnya sampai pintu gerbang dan akan menjemputnya setelah selesai mengaji. Aminah yang pembawaannya kalem, sopan dan lemah lembut membuat ustad yang mengajari mengaji memperhatikannya dan penasaran ingin mengetahui keberadaan keluarganya. Suatu hari ustad Yusuf datang ke rumah menemui orang tua Aminah dan menanyakan apakah Aminah sudah memiliki pacar atau belum. Seorang ustad tersebut bermaksud ingin melamar Aminah jika belum memiliki pacar, akan tetapi orang tuanya memberitahukan bahwa Aminah sudah memiliki pacar, dan akhirnya ustad tersebut mengurungkan niat baiknya tanpa sepengetahuan Aminah.
                Selain mengaji mempelajari Al-Qur’an, Aminah juga rajin mendatangi majelis pengajian dari kampus ke kampus, dan bertemu dengan seorang presenter TV yang bernama Hendri , yang pada saat itu membawakan acara pengajian tersebut. Hendri memberikan nomor hand phonenya kepada Aminah, akan tetapi Aminah hanya menganggap Hendri sebagai teman biasa saja. Suatu hari Hendri datang kerumah Aminah menanyakan kepada orang tuanya yang bermaksud ingin melamar Aminah, jika belum memiliki pacar, Orang tua Aminah mengatakan bahwa Aminah sudah memiliki pacar. Setelah itu ada lagi laki-laki yang tidak dikenal tiba-tiba datang ke orang tua Aminah dan menanyakan Aminah. Maksud kedatangannya ingin menjodohkan dengan seseorang  yang tanpa identitas atau ciri-ciri orang yang mau di jodohkan, tentu saja Aminah dan orang tuanya heran dengan kedatangan tamu tak dikenal tersebut, dan orang tua Aminah mengatakan pada laki-laki tak dikenal tersebut,”Mohon maaf Aminah sudah memiliki kekasih yang mungkin akan segera menikahinya, Aminah juga tidak suka di jodohkan. Dia gadis penurut dengan orang tua tapi soal jodoh, dia yang menentukannya sendiri. Biar dia sendiri yang menentukan masa depan dan kebahagiaannya, kami sebagai orang tua hanya mengarahkannya saja. Tugas kami membesarkannya dan membimbingnya hingga tumbuh dewasa, tapi setelah menikah kami serahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada suaminya kelak”.Lalu laki-laki tersebut pulang dan tak pernah kembali lagi.
                Setelah kedatangan laki-laki tak dikenal tarsebut ada saja cobaan yang menimpa Aminah dan keluarganya.Ternyata laki-laki tak dikenal tersebut adalah orang suruhan Johan, dia marah karena tak bisa mendapatkan cinta Aminah, karena Aminah sendiri tidak pernah mengenal siapa Johan. Lalu dia menyuruh seseorang lagi untuk memberikan makanan yang sudah diberi racun untuk diberikan kepada Aminah melalui temannya Evan sebagai permintaan maaf, tanpa diketahui dari mana asal makanan tersebut dan tanpa curiga Aminah memakannya. Setelah itu perut Aminah merasa mules dan mual, lalu memuntahkannya sampai habis semua isi perutnya dan mengalami dehidrasai. Aminah mengalami koma selama tiga hari dan selama seminggu dalam perawatan dirumah sakit, wajahnya pucat pasi. Setelah sadar Aminah berdoa dan memperbanyak berdzikir pada Alloh, “Ya Alloh cobaan apalagi yang Engkau timpakan kepada hamba, janganlah Engkau memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba sanggup menjalaninya”. (Aminah berdoa hingga meneteskan air mata). Setelah kejadian tersebut Adnan lebih memperhatikan dan menjaga Aminah.
                Setelah beberapa bulan dari perkenalan Aminah dan Hendri, lalu mendapat kabar bahwa Hendri menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya, dan Aminah hadir ke pesta pernikahan tersebut bersama Adnan. Aminah mengucapkan selamat menempuh hidup baru semoga bahagia kepada Hendri.
 Adnan mengetahui bahwa banyak laki-laki yang ingin melamar Aminah, karena Aminah berkeluh kesah pada Adnan.
Aminah                : “Adnan kamu tau kan kalau saya sudah berkomitmen dengan satu orang, maka aku akan
                  Setia, dan sekarang banyak laki-laki yang ingin melamarku. Aku bukannya bangga dengan
                  Ini semua, tapi justru menjadi beban batin buat aku”.
Adnan   : “Terus aku harus bagaimana?”
Aminah: “Kamu mengerti arah pembicaraanku atau tidak Adnan, lakukan sesuatu kalau kamu benar-
                  Benar mencintaiku dan gak mau aku dimiliki orang lain”.
Adnan   : “ Baiklah Aminah aku akan segera melamarmu dan memberikan cincin pertunangan
                  Sebagai pengikat cinta kita”.
Aminah                : “Begitu dong, aku kan jadi tenang, terimakasih ya Adnan”.
Adnan   : (Tersenyum dan mencium kening Aminah ).

                Aminah berbicara kepada orang tuanya bahwa Adnan akan segera melamarnya dan mereka merestuinya. Aminah dan Adnan melakukan pertunangan di sebuah masjid dengan mengucap kalimat Syahadat dan basmallah dengan disaksikan oleh seorang ustad dan para jamaah. Dan nanti setelah lulus kuliah mereka akan melangsungkan akad nikah di KUA.
Aminah masih merasakan ada kejanggalan yang terjadi pada dirinya dan pada suatu hari Aminah merasa tidak enak perasaannya gelisah, ada sesuatu yang tidak lazim pada dirinya sehingga Aminah datang kepada seorang ustad. Aminah disarankan untuk memperbanyak berdzikir dan membaca surat Al-Baqarah selama empat puluh hari, maka guna-guna atau apapun yang berniat jahat kepada diri Aminah akan musnah dan akan kembali kepada yang berbuat itu sendiri, atas izin Alloh apapun bisa terjadi dengan sekejab.
Setelah genap empat puluh hari Aminah menyelesaikan membaca surat Al-Baqarah, orang yang berniat jahat terhadap Aminah tersebut mengalami sakit muntah darah yang begitu hebat,  masuk rumah sakit dan meninggal dunia. Akhirnya Aminah mengetahui bahwa orang musyrik yang telah berniat jahat kepadanya  adalah Johan,tempat yang pantas untuk orang musyrik ya di neraka jahanam bersama syetan dan iblis. Dalam hati Aminah berkata “Itu akibat dari kejahatannya sendiri,yang penting saya tidak mendzolimi siapapun, aku hanya melindungi diriku dari yang jahat. Dia menerima sakit karena kejahatannya sendiri, semuanya terjadi atas izin Alloh”.
Akhirnya semua terjawab sudah bahwa yang berbuat jahat kepada keluaga Aminah selama ini adalah Johan, yang membuat ayah Aminah lumpuh akibat kecelakaan dan akhirnya harus menggunakan kursi roda. Johan membayar orang untuk menabrak dari belakang, tapi jangan sampai ketahuan, buat seolah-olah murni kecelakaan. Orang bayaran tersebut melakukannya dengan rapi, menabrak ayah Aminah sehingga tulang belakangya retak dan kakinya lumpuh.Orang picik seperti Johan hanya Alloh yang bisa mengadilinya.
Dan orang  yang menabrak Aminah dari belakang hingga tubuh Aminah terjungkal dari motornya dan motornya sampai terpelanting jauh dari tubuhnya. Pada saat itu kaki Aminah retak sehingga tidak bisa berjalan dan jatuh terlentang ditengah jalan raya tak seorang pun melihatnya karena yang menabraknya melarikan diri. Tiba-tiba dalam gelap malam tersebut terlihat sorot lampu bus dan mobil yang akan menabrak tubuhnya, dengan mu’jizat Alloh Aminah bisa bangun dan berlari ke tepi jalan, akan tetapi setelah itu Aminah tidak bisa berjalan lagi dan tak sadarkan diri, lalu dibawa kerumah sakit, di ruang IGD Aminah dirawat dan mengalami sedikit gangguan pada otaknya karena benturan yang sangat keras di kepalanya, tubuh Aminah menggigil kejang dari ujung kakinya dingin dan pucat pasi. Aminah mengalami sakaratul maut, akan tetapi Alloh belum menghendaki Aminah meninggal dunia sehingga Aminah berhasil selamat dari kritisnya.
Aminah yang selama ini terkenal dengan gadis sopan dengan tutur kata yang lemah lembut, bisa marah juga dan berkata dalam hati “Kok ada ya manusia yang jahatnya melebihi iblis, biar saja semua kejahatanmu itu akan kamu rasakan diakhir hidupmu, karena Alloh Maha Melihat dan Maha Mengetahui,diampuni atau tidak itu urusan Alloh”. Aku hanya wanita lemah, akan tetapi aku kuat karena Alloh, Alloh dan Al-Qur’an yang akan melindungiku, sebagai pedoman dan petunjuk hidupku. Semua yang terjadi serahkan pada Alloh, biar Alloh yang akan mengadilinya, dia mau bertobat atau tidak itu urusan dia sendiri dengan Tuhannya, yang akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di hadapan Alloh.
Dengan semua kejadian yang menimpa Aminah dan keluarganya membuatnya semakin dekat dengan Alloh, dan lebih rajin membaca Al-Qur’an. Aminah sangat mencintai Al-Qur’an seperti dirinya mencintai Alloh. Dengan mu’jizat-mu’jizat yang diberikan oleh Alloh dan ayat-ayat Al-Qur’an  yang membuat hati Aminah menjadi tentram,tenang dan lebih sabar, menjalani hidup ini dengan lebih ikhlas lillahita’alla. Aminah merasa hidupnya lebih bahagia dan dipertemukan seorang pemuda yang sangat menyayanginya meski usianya lebih muda dari Aminah.Aminah tidak pernah menyangka bahwa dia akan berjodoh dengan pemuda tersebut, itulah rahasia Alloh.
Akhirnya Aminah dan Adnan menikah,mereka berdua menunaikan ibadah haji bersama-sama  karena sejak masih muda sudah rajin menabung tabungan haji di Bank Pembangunan Daerah dan kebetulan Adnan adalah seorang mualaf yang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah. Bahkan ketaatannya melebihi seorang muslim yang sudah memeluk agama Islam sejak lahir, mungkin ini adalah sebuah hidayah dari Alloh swt. Mereka berdua hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak yang comel. Pernikahan mereka diniatkan untuk menyempurnakan ibadah kepada Alloh swt dan mendapat ridhonya agar menjadi pasangan suami istri untuk dunia dan akhirat, dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, amin ya rabbal ‘alamin.

-----------------------------------------------------------THE END---------------------------------------------------------

HAPPY ENDING
“Kabut Senja di batas kota”
Seiring waktu berjalan,awan berarak
Kabut tebal menyelimuti senja
Dalam pekatnya malam berhias bintang
Datanglah sang mentari pagi cerahkan dunia
Sambut duniamu dengan senyum ceria


“Jazzakillah khoiron katsiron”

Script writer: Marwah
Yogyakarta

Thanks To:
Alloh
Orang Tua Dan Keluarga
Aba Sinema Yogyakarta
Teman-Teman Yang Bermanfaat Buat Marwah
Dan Orang-Orang Yang Selalu Mendukung Marwah Dalam Belajar
MARWAH (3).jpg




Tidak ada komentar:

Posting Komentar