MUTIARA QOLBU
PROSES HIJRAH MENJADI MUSLIMAH
PENYUSUN :
MARWAH
CONTACT:
Email: marwahqurotaayun@gmail.com
HP : 085726985181
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Alloh yang telah
memberikan rahmat dan hidayah sehingga terinspirasi untuk menulis buku ini.Buku
ini berisi tentang biografi penulis sebagai awal permulaan untuk menghasilkan
karya tulis yang insyaalloh akan bermanfaat bagi muslim dan muslimah. Semoga
dengan ditulisnya buku ini bisa menginspirasi dan bisa memotivasi untuk menjadi
muslim yang lebih baik lagi secara bertahap.
Pada awalnya penulis hanya mencatat pengalaman hidup pada
buku diary dan terlintas dalam benak kenapa tidak dijadikan sebuah karya tulis,
yang berharap akan bermanfaat suatu saat nanti baik ketika penulis masih hidup
maupun nanti ketika penulis sudah tiada menghadap Illahi. Semoga buku ini bisa
menjadi ajang dakwah bagi penulis dengan berbagi pengalaman hidup. Sebaik-baik
orang muslim adalah yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya pada muslim
yang lain, dan bisa memberi manfaat bagi orang lain. “ Sampaikanlah walau satu
ayat “.
Tentu saja karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna,
tapi insyaalloh bermanfaat sebagai renungan dan banyak pembelajaran hidup di
dalamnya.Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada
Alloh swt, yang sampai saat ini masih diberi karunia sehat. Selanjutnya
terimakasih buat orang tua dan keluarga, terutama ibu yang telah melahirkan ke
dunia dan merawat hingga saat ini, dan selalu mendukung untuk terus belajar,terimakasih
kepada keluarga Bpk H / Ibu Hj.Annar Sukiran, terimakasih kepada guru-guru
sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, seluruh keluarga besar
ABA Sinema Yogyakarta, para dosen yang telah membimbing dan mengajarkan ilmunya
hingga Marwah jadi terampil menulis, juga seluruh karyawan ABA Sinema yang
telah banyak membantu dalam kelancaran proses belajar mengajar, terimakasih
kepada ustad dan ustadzah yang pernah membimbing Marwah dalam menuntut ilmu
agama dan Al-qur’an di Masjid Syuhada Yogyakarta, terimakasih kepada semua
teman-teman yang pernah belajar bersama dan saling mendukung juga saling
memberi semangat.
Penulis mengucapkan selamat membaca, semoga bermanfaat dan
apabila ada kesalahan atau ada kata-kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan,
karena manusia tak ada yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Alloh.
Jazakillah khoiron katsiron.
SUBHANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADUALLA ILLAHA ILLA ANTA
ASTAGHFIRUKA WAATUBU ILAIK

“LATAR BELAKANG PENDIDIKAN”
Marwah adalah seorang gadis kampung, yang terlahir dari
keluarga yang tidak mampu dan bahkan pengetahuan agamanya sangat minim. Sejak
kecil sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan, sejak kelas 3 SD sudah terbiasa
melakukan pekerjaan rumah membantu orang tuanya seperti menyapu,mencuci piring,
mencuci baju, menyetrika baju, sehingga sudah terlatih mandiri sejak
kecil.Bahkan Marwah kecil memperoleh ilmu agama, seperti iqro’ dan belajar sholat
dari orang lain, dari seorang guru TPA di masjid dan bukan dari orang tua
sendiri. Beruntunglah anak-anak jaman sekarang yang bisa memperoleh ilmu agama
dari orang tua sendiri dan juga masih bisa bermanja-manja, minta apa saja
dituruti tanpa harus bekerja keras membantu pekerjaan rumah.
“Anak
kecil ibarat kertas masih putih bersih tak ternoda, tergantung orang tua mau
menuliskan apa pada kertas tersebut “
Marwah sedikit kecewa dengan masa kecil yang harusnya masa
anak-anak, masanya bermain dan belajar tapi justru lebih banyak di jejali
pekerjaan rumah yang begitu sangat melelahkan, dan bahkan menyita waktu untuk
mengaji, sehingga Marwah berhenti mengaji dan lebih banyak dirumah
menyelesaikan pekerjaan rumah, dan menjadikannya merasa sangat tertekan. Tapi
semua pasti ada hikmah dibalik sebuah proses perjalanan hidup. Dengan begitu
Marwah terbiasa hidup mandiri dan disiplin.
Sejak kecil Marwah sudah suka membaca, entah itu buku-buku
pelajaran, majalah atau apa saja yang bisa dibaca, sehingga banyak sekali ilmu
yang dapat diserap dengan membaca.Dengan hobi membaca, prestasi di sekolah pun
sedikit demi sedikit mulai meningkat dan
akhirnya prestasipun mudah diraih. Yang dulunya tidak pernah mendapat rangking
kelas, dengan hobi membaca tentunya ilmu pengetahuan semakin bertambah banyak,
dan Marwah mulai bisa meraih sepuluh besar yang membuat semakin bangga dengan
diri dan semangat belajar pun semakin meningkat. Menjelang kelulusan yang
begitu mendebarkan dan pengumuman nilai, akhirnya Marwah lulus dengan nilai
yang cukup tinggi dan mau masuk sekolah kemana saja tinggal pilih.
Dan sekarang waktunya menentukan pilihan untuk masuk
sekolah, Marwah bingung ingin masuk salah satu sekolah negeri
favorit di Bantul tapi waktu itu ada rayon, sehingga Marwah tidak bisa
masuk di sekolah tersebut dan akhirnya masuk di salah satu sekolah negeri yang
masuk rayon wilayah. Sekolah Marwah berada di pegunungan, tapi negeri dan
lumayan jadi favorit juga.Karena waktu itu teman Marwah kebanyakan cowok, dan
kebanyakan mereka diterima disekolah swasta tapi di kota. Marwah selalu
diejekin teman-teman Marwah dikampung, mereka bilang “ Ngapain sekolah kok di
pegunungan, enakan di kota bisa melihat keramaian kota”. Dan Marwah jawab “ Ya
tidak apa-apa yang penting kan diterima sekolah di negeri, niat saya sekolah
bukan ingin melihat keramaian kota”.
Dan ternyata terbukti omongan Marwah dengan tujuan sekolah
karena ingin belajar, Marwah selalu menjadi sepuluh besar waktu duduk di
kelas satu SMP, dan ketika Marwah
mendapat rangking pertama pada caturwulan ke dua, Marwah seperti tidak
percaya.Karena dengan ketidak kepercayaan pada diri sendiri, Marwah turun
peringkat kelas jadi nomor 6 pada caturwulan ke tiga. Disini kita bisa
mengambil kesimpulan bahwa rasa percaya diri itu sangat dibutuhkan untuk
mempertahankan prestasi.Dan ketika naik ke kelas dua Marwah perlahan-lahan
memperbaiki belajar dan prestasi pun perlahan mulai meningkat lagi. Pada
caturwulan pertama di kelas dua Marwah menjadi peringkat kelas ke 4, dan pada
caturwulan ke 2 dan ke 3 Marwah bertahan menjadi juara kelas berturut-turut
menduduki peringkat ke 2.
Karena Marwah rajin dan berprestasi, maka ada seorang teman
bapak Marwah yang bermaksud membantu keluarga Marwah yang tidak mampu. Dan
ketika liburan kenaikan kelas Marwah diajak ke Purworejo, diperkenalkan salah
satu keluarga kaya tapi kehidupannya bersahaja, teratur dan disiplin. Beliau
adalah mertua dari teman bapak Marwah yang menginginkan seorang anak untuk
menemaninya, menjadi anak asuh karena ketiga anak beliau sudah berkeluarga
semua. Dan kebetulan beliau seorang guru dan suaminya seorang pegawai
kepemerintahan, pasangan suami istri yang sudah terbiasa membantu anak-anak
yang tidak mampu dan berprestasi.
Dan hari selanjutnya Marwah pulang ke Bantul serta datang ke
sekolah lama mengurus kepindahan sekolah. Ketika datang ke sekolah Marwah
dipanggil ke ruangan BP ditanyain oleh guru,kenapa kok pindah sekolah padahal
di sini kamu berprestasi, dan Marwah menjawab “ Saya tidak tahu, ini semua atas
kehendak orang tua bu.” Sepertinya para guru juga tidak ingin kehilangan salah
satu anak didiknya yang berprestasi tapi ya bagaimana sudah menjadi kehendak
orang tua siswa, dan Marwah pun sebenarnya enggan meninggalkan sekolah dan
teman-teman yang sudah bersahabat. Dulu
Marwah agak tomboy dan sedikit kemayu, terus badannya kecil.
Akhirnya Marwah pindah sekolah di kota Purworejo, dan di
beri pilihan mau masuk sekolah negeri favorit pertama atau sekolah negeri
favorit ke dua di kota Purworejo. SMP favorit pertama yaitu SMP N 2 Purworejo
dan SMP favorit ke dua adalah SMP N 1 Pueworejo, dan akhirnya Marwah memilih
SMP N 1 Purworejo yang lebih dekat dari rumah, sehingga Marwah kalau berangkat
sekolah jalan kaki saja. Pada hari pertama masuk sekolah baru Marwah jadi pusat
perhatian, dan jadi nervest juga, soalnya para guru ketika mengenalkan pada
murid-murid yang lain dengan cara begini, “ Perkenalkan teman-teman ada artis
dari Bantul.” Marwah jadi malu, tapi beruntunglah semua teman-teman cukup baik
dan bersahabat. Marwah pun cepet punya banyak teman, tapi dalam mengikuti
pelajaran perlu penyesuaian lagi. Ternyata sekolah Marwah yang lama cukup
berkualitas dan disiplin, di sekolah yang baru lebih berkualitas pendidikannya
dan lebih disiplin. Anak-anaknya pun jauh lebih cerdas-cerdas. Disekolah lama
Marwah bisa jadi juara kelas, tapi di sekolah yang baru Marwah Cuma bertahan
menjadi sepuluh besar beturut-turut.
Yang menjadi wow amazing di sekolah baru, ketika Marwah
mendapatkan nilai tertinggi pada ulangan harian, yaitu pelajaran IPS yang
ketika masih dalam masa penyesuaian nilai ulangan Marwah selalu rendah, dan guru
selalu bilang “ Memangnya di Bantul tidak ada pelajaran seperti ini ya.” Marwah
cuma diam dan berfikir “aku akan buktikan, aku pasti bisa” , Marwah mulai
meningkatkan belajar membuat rangkuman untuk menghafal pada kertas kecil, tapi
bukan untuk menyontek lho, untuk dibaca berulang-ulang dan sampai kalau belajar
tengah malam itu bangun, ketika orang-orang sudah pada tidur Marwah belajar.
Ketika paginya ulangan semua soal yang diberikan sudah diluar kepala Marwah,
sudah hafal semua dan dengan lancar menyelesaikan soal yang diberikan.Waktu itu
materi pelajaran untuk ulangan yaitu peta buta Benua Eropa, disuruh menyebutkan
negara beserta ibu kotanya sesuai letaknya, Marwah cuma ada kesalahan satu
yaitu Laut Artika yang itu sebenarnya tidak pernah diajarkan, karena waktu itu
jika ada yang bisa menjawab dengan benar semua akan diberi hadiah uang dan itu
tidak mungkin dilakukan oleh seorang guru juga kan, hanya untuk memberi
motivasi agar anak didiknya rajin belajar. Waktu itu jawaban Marwah benar semua
kecuali Laut Artika dan Marwah mendapatkan nilai 9,8 . Kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa orang yang meremehkan diri kita jadikan pemacu semangat dalam
hal apapun.
Dan kejadian yang memalukan adalah ketika pelajaran
matematika, pelajaran favorit Marwah karena senang berhitung menggunakan
rumus-rumus. Waktu itu guru matematika di kelas oleh Pak Tejo, seorang guru
yang cukup muda,cakep smart dan disipin. Ketika diberikan tugas rumah Marwah
selalu mengerjakan dengan rapi, itu pak guru seneng kalau muridnya rajin dan
kalem-kalem saja. Tapi ketika suatu hari Marwah diberi tugas rumah, Marwah
mengerjakan tugas tapi keliru kelompatan halaman yang belum diajarkan sudah
dikerjakan, dan tugas yang diberikan malah belum dikerjakan, sama saja tidak
mengerjakan tugas kan. Marwah dilempar kapur tulis dan disuruh keluar dari
ruang kelas gak boleh mengikuti pelajaran. Marwah pergi ke perpustakaan sambil
baca-baca buku, ditanyain oleh guru penjaga perpustakaan “kenapa jam pelajaran
kok disini ? “ dan Marwah jawab “ Lupa tidak mengerjakan tugas “ Marwah sambil
baca buku dan instropeksi, tiba-tiba ada teman yang nangis keluar dari ruang
kelas karena sudah terlambat tidak mengerjakan tugas lagi, terus Marwah duduk
bareng di perpustakaan sambil baca buku. Dan Marwah sok menasehati “ Gak usah
menangis, saya juga lupa tidak mengerjakan tugas.” Tapi diluar dugaan Marwah
ketika nilai ujian 9,5 dan pada raport nilai Matematika Marwah 9 pada
caturwulan pertama. Buat Marwah wow amazing banget, karena buat sebagian anak
pelajaran matematika adalah sesuatu yang menakutkan dan membosankan, tapi buat
Marwah adalah hoby yang memacu semangat belajar.
Tentu saja Marwah gak mau mempermalukan orang tua asuh yang
telah menyayangi Marwah seperti anak sendiri dan membiayai sekolah, juga ingin
membuat bangga kepada guru wali kelas
yang ternyata teman ibu asuh Marwah. Karena ibu selalu menanyakan
perkembangan proses belajar Marwah kepada ibu wali kelas.Terimakasih kepada
keluarga Bapak/Ibu H. Annar Sukiran yang telah menjadi orang tua asuh Marwah ,
yang telah dengan sabar mengasuh Marwah meskipun cuma sebentar, karena rasa
cinta dan kasih sayang Marwah kepada orang tua kandung sendiri lebih besar,
sehingga Marwah memutuskan untuk kembali pulang ke Bantul. Padahal beliau
sangat menyayangi Marwah melebihi kasih sayang orang tua Marwah sendiri, dan
hidup berkecukupan, lebih teratur dan disiplin.
Terimakasih telah menyayangi Marwah dan atas kepercayaannya
ingin mengasuh hingga ke perguruan tinggi, Marwah tidak bermaksud menolak
kebaikan keluarga Bpk/Ibu H.Annar yang benar-benar tulus ingin membahagiakan
dan membantu mewujudkan cita-cita. Marwah mengucapkan maaf apabila membuat Ibu
kecewa pada waktu itu menjelang kelulusan dari SMP N 1 Purworejo, dan merayu
Marwah agar tetap tinggal di Purworejo di beri pilihan mau melanjutkan sekolah di
SMKK atau di SMA N 3 Purworejo yang termasuk SMA favorit di Purworejo juga
lebih dekat dengan rumah, yang bersebelahan dengan SMP N 1 Purworejo. Kalau
waktu itu Marwah jadi masuk SMA 3,sekolahnya cuma begeser sejengkal saja. Waktu
itu nilai NEM Marwah lumayan tinggi yaitu 42,47.
Rahasianya agar bisa sukses menempuh ujian yaitu dengan
hidup yang teratur dan istirahat yang cukup, itu yang diajarkan oleh Ibu asuh.
Setiap pulang sekolah, sehabis makan siang ibu selalu menganjurkan untuk tidur
siang meski sebentar, minimal satu jam. Baru setelah bangun tidur boleh
membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah maghrib Marwah makan malam
bersama bapak dan ibu, setelah sholat beliau mengaji dan Marwah masuk kamar
untuk belajar, sampai jam 9 malam lalu tidur dan nanti tengah malam sekitar jam
satu bangun untuk belajar lagi sekitar satu jam dan kembali tidur, lalu bangun
jam 5 pagi. Dengan pola hidup yang teratur maka badan kita akan sehat, yang
dulunya ketika dikampung, Marwah badannya kurus, hitam dan setelah di kota
tinggal bersama keluarga bpk/ibu H. Annar menjadi sedikit gemuk dan kulitnya
pun menjadi putih bersih. Dan yang dulunya agak tomboy dan sedikit kemayu
terjadi perubahan menjadi sedikit feminim, sedikit kalem,dan sedikit dewasa.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pola asuh sangat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan mental, juga karakter seseorang.
Ada cerita yang menarik dalam menempuh ujian PRA EBTA dan
EBTANAS, karena Marwah disekolah selalu memperhatikan setiap pelajaran yang
diajarkan oleh guru dan duduknya pun paling depan, sehingga semua pelajaran
dengan mudah terekam di kepala. Pada saat ujian PRA EBTA yang mendebarkan
Marwah benar-benar berjuang belajar semaksimal mungkin dan hasilnya lumayan
yaitu 42,44. Dan ketika menempuh ujian EBTANAS malah tidak begitu mendebarkan, soal
hampir mirip pada soal ujian PRA EBTA. Dalam mengerjakan ujian hanya seperti
mengulang saja dan dengan lancar menyelesaikan ujian tersebut. Hasil ujian
EBTANAS pun tak jauh dari hasil PRA EBTA, yang tadinya 42,44 menjadi 42,47.
Marwah bersyukur dan seneng banget, di sini kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa belajar itu tidak bisa sekaligus hanya ketika akan ujian saja, tetapi
secara bertahap sedikit demi sedikit dan ketika seorang guru memberikan
pelajaran kita memperhatikan dan memahaminya sehingga mudah di cerna dan mudah
terekam di memori otak kita.
Setelah lulus sekolah menengah pertama dari SMP N 1
Purworejo, Marwah pulang ke Bantul dan tentu saja orang tua marah karena
siapapun orang tua kita ingin yang terbaik untuk anaknya, entah dengan cara
apapun. Ibu kandung Marwah marah karena dah menyia-nyiakan kesempatan yang
jarang dimiliki anak lain, dan ibu kandung Marwah mau menyekolahkan asalkan mau
masuk sekolah SMKK. Sedangkan Marwah waktu itu ingin masuk SMEA, mau gak mau
harus nurut orang tua yang membiayai sekolah dari pada tidak sekolah.
Dan akhirnya Marwah dengan teman-teman mendaftar sekolah di
SMK N 1 Sewon Bantul, tanpa didampingi orang tua. Marwah pun diterima disekolah
tersebut, dan menduduki peringkat ke 2 nilai tertinggi dari kesekian siswa yang
diterima. Peringkat pertama dengan nilai 43 koma berapa, dan Marwah peringkat
ke dua dengan nilai 42,47. Kebetulan kami berdua masuk satu kelas dalam
pembagian kelas, Marwah masuk pada kelas I Busana 1.
Marwah masuk ke SMKK karena paksaan orang tua, maka belajar
pun tidak maksimal sehingga prestasi pun menurun. Nilai lumayan tinggi tapi tidak
pernah lagi jadi juara kelas. Tapi Marwah tetap berusaha sebisa mungkin
semampunya, dan pelajaran yang menarik minat Marwah dan nilainya pun agak
menonjol yaitu pelajaran bahasa inggris, peragaan atau fashion show, desain dan
pelajaran etika komunikasi.
Di kelas dua ini yang menjadi awal cerita Marwah menggunakan
hijab, karena sekolah negeri sehingga seragamnya bebas, dalam artian tidak
semua siswa perempuan berjilbab. Tetapi setelah kelas dua ketika pelajaran
Agama Islam, semua siswa perempuan diwajibkan menggunakan jilbab. Marwah pun
mulai menjaitkan seragam muslim, dan ketika pertama memakai kok terasa lebih
nyaman, lebih sopan dan lebih asik aja. Selanjutnya keterusan memakai seragam
muslim sampai kelas tiga dan sampai lulus, meskipun masih kadang dibuka ketika
ada pelajaran fashion show peragaan busana hasil karya sendiri.
Begitulah sekilas perubahan Marwah berhijab, dan setelah
lulus Marwah mendapat bea siswa untuk masuk kuliah, tapi disisi lain Marwah dah
terlanjur daftar bekerja di luar negeri, yang waktu itu pihak depnaker promosi
ke sekolah. Hidup Marwah selalu dihadapkan dua pilihan, dan minta pendapat ke
orang tua mau pilih kuliah atau kerja. Dan akhirnya Marwah memutuskan untuk
bekerja karena belum punya cukup biaya, akhirnya keterusan asyik bekerja dari
perusahaan ke perusahaan sampai 14 tahun, dan akhirnya baru sekarang di tahun
2014 menetapkan hati untuk konsentrasi kuliah di Akademi Bahasa Asing dan Sinematografi.
“ Hidup adalah pilihan maka kita harus pandai-pandai memilih “
“ Menuntut ilmu itu
tiada batasan umur, ruang dan waktu. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah pelajaran, maka teruslah belajar
jangan putus asa. “
Semoga pengalaman
belajar Marwah bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk teman-teman semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar