Total Tayangan Halaman

Selasa, 02 Desember 2014

BIOGRAFI MARWAH



MUTIARA QOLBU
PROSES HIJRAH MENJADI MUSLIMAH

PENYUSUN :
MARWAH






CONTACT:
Email: marwahqurotaayun@gmail.com
HP : 085726985181

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, segala puji bagi Alloh yang telah memberikan rahmat dan hidayah sehingga terinspirasi untuk menulis buku ini.Buku ini berisi tentang biografi penulis sebagai awal permulaan untuk menghasilkan karya tulis yang insyaalloh akan bermanfaat bagi muslim dan muslimah. Semoga dengan ditulisnya buku ini bisa menginspirasi dan bisa memotivasi untuk menjadi muslim yang lebih baik lagi secara bertahap.
Pada awalnya penulis hanya mencatat pengalaman hidup pada buku diary dan terlintas dalam benak kenapa tidak dijadikan sebuah karya tulis, yang berharap akan bermanfaat suatu saat nanti baik ketika penulis masih hidup maupun nanti ketika penulis sudah tiada menghadap Illahi. Semoga buku ini bisa menjadi ajang dakwah bagi penulis dengan berbagi pengalaman hidup. Sebaik-baik orang muslim adalah yang mempelajari Al-qur’an dan mengajarkannya pada muslim yang lain, dan bisa memberi manfaat bagi orang lain. “ Sampaikanlah walau satu ayat “.
Tentu saja karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna, tapi insyaalloh bermanfaat sebagai renungan dan banyak pembelajaran hidup di dalamnya.Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Alloh swt, yang sampai saat ini masih diberi karunia sehat. Selanjutnya terimakasih buat orang tua dan keluarga, terutama ibu yang telah melahirkan ke dunia dan merawat hingga saat ini, dan selalu mendukung untuk terus belajar,terimakasih kepada keluarga Bpk H / Ibu Hj.Annar Sukiran, terimakasih kepada guru-guru sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, seluruh keluarga besar ABA Sinema Yogyakarta, para dosen yang telah membimbing dan mengajarkan ilmunya hingga Marwah jadi terampil menulis, juga seluruh karyawan ABA Sinema yang telah banyak membantu dalam kelancaran proses belajar mengajar, terimakasih kepada ustad dan ustadzah yang pernah membimbing Marwah dalam menuntut ilmu agama dan Al-qur’an di Masjid Syuhada Yogyakarta, terimakasih kepada semua teman-teman yang pernah belajar bersama dan saling mendukung juga saling memberi semangat.
Penulis mengucapkan selamat membaca, semoga bermanfaat dan apabila ada kesalahan atau ada kata-kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan, karena manusia tak ada yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Alloh. Jazakillah khoiron katsiron.

SUBHANAKALLOHUMMA WABIHAMDIKA  ASYHADUALLA ILLAHA ILLA ANTA
ASTAGHFIRUKA WAATUBU ILAIK











MUTIARA QOLBU


*LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
*HIDAYAH SEORANG GADIS MENUJU MUSLIMAH
*PROSES HIJRAH MENJADI MUSLIMAH
*ISTIQOMAH DALAM MEMPERTAHANKAN JATI DIRI
SEBAGAI WANITA MUSLIMAH
*HIJAB SEBAGAI IDENTITAS WANITA MUSLIMAH




MARWAH



“LATAR BELAKANG PENDIDIKAN”

Marwah adalah seorang gadis kampung, yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu dan bahkan pengetahuan agamanya sangat minim. Sejak kecil sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan, sejak kelas 3 SD sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah membantu orang tuanya seperti menyapu,mencuci piring, mencuci baju, menyetrika baju, sehingga sudah terlatih mandiri sejak kecil.Bahkan Marwah kecil memperoleh ilmu agama, seperti iqro’ dan belajar sholat dari orang lain, dari seorang guru TPA di masjid dan bukan dari orang tua sendiri. Beruntunglah anak-anak jaman sekarang yang bisa memperoleh ilmu agama dari orang tua sendiri dan juga masih bisa bermanja-manja, minta apa saja dituruti tanpa harus bekerja keras membantu pekerjaan rumah.
Anak kecil ibarat kertas masih putih bersih tak ternoda, tergantung orang tua mau menuliskan apa pada kertas tersebut “
Marwah sedikit kecewa dengan masa kecil yang harusnya masa anak-anak, masanya bermain dan belajar tapi justru lebih banyak di jejali pekerjaan rumah yang begitu sangat melelahkan, dan bahkan menyita waktu untuk mengaji, sehingga Marwah berhenti mengaji dan lebih banyak dirumah menyelesaikan pekerjaan rumah, dan menjadikannya merasa sangat tertekan. Tapi semua pasti ada hikmah dibalik sebuah proses perjalanan hidup. Dengan begitu Marwah terbiasa hidup mandiri dan disiplin.



Sejak kecil Marwah sudah suka membaca, entah itu buku-buku pelajaran, majalah atau apa saja yang bisa dibaca, sehingga banyak sekali ilmu yang dapat diserap dengan membaca.Dengan hobi membaca, prestasi di sekolah pun sedikit  demi sedikit mulai meningkat dan akhirnya prestasipun mudah diraih. Yang dulunya tidak pernah mendapat rangking kelas, dengan hobi membaca tentunya ilmu pengetahuan semakin bertambah banyak, dan Marwah mulai bisa meraih sepuluh besar yang membuat semakin bangga dengan diri dan semangat belajar pun semakin meningkat. Menjelang kelulusan yang begitu mendebarkan dan pengumuman nilai, akhirnya Marwah lulus dengan nilai yang cukup tinggi dan mau masuk sekolah kemana saja tinggal pilih.
Dan sekarang waktunya menentukan pilihan untuk masuk sekolah, Marwah bingung ingin masuk salah satu sekolah  negeri  favorit di Bantul tapi waktu itu ada rayon, sehingga Marwah tidak bisa masuk di sekolah tersebut dan akhirnya masuk di salah satu sekolah negeri yang masuk rayon wilayah. Sekolah Marwah berada di pegunungan, tapi negeri dan lumayan jadi favorit juga.Karena waktu itu teman Marwah kebanyakan cowok, dan kebanyakan mereka diterima disekolah swasta tapi di kota. Marwah selalu diejekin teman-teman Marwah dikampung, mereka bilang “ Ngapain sekolah kok di pegunungan, enakan di kota bisa melihat keramaian kota”. Dan Marwah jawab “ Ya tidak apa-apa yang penting kan diterima sekolah di negeri, niat saya sekolah bukan ingin melihat keramaian kota”.



Dan ternyata terbukti omongan Marwah dengan tujuan sekolah karena ingin belajar, Marwah selalu menjadi sepuluh besar waktu duduk di kelas  satu SMP, dan ketika Marwah mendapat rangking pertama pada caturwulan ke dua, Marwah seperti tidak percaya.Karena dengan ketidak kepercayaan pada diri sendiri, Marwah turun peringkat kelas jadi nomor 6 pada caturwulan ke tiga. Disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rasa percaya diri itu sangat dibutuhkan untuk mempertahankan prestasi.Dan ketika naik ke kelas dua Marwah perlahan-lahan memperbaiki belajar dan prestasi pun perlahan mulai meningkat lagi. Pada caturwulan pertama di kelas dua Marwah menjadi peringkat kelas ke 4, dan pada caturwulan ke 2 dan ke 3 Marwah bertahan menjadi juara kelas berturut-turut menduduki peringkat ke 2.
Karena Marwah rajin dan berprestasi, maka ada seorang teman bapak Marwah yang bermaksud membantu keluarga Marwah yang tidak mampu. Dan ketika liburan kenaikan kelas Marwah diajak ke Purworejo, diperkenalkan salah satu keluarga kaya tapi kehidupannya bersahaja, teratur dan disiplin. Beliau adalah mertua dari teman bapak Marwah yang menginginkan seorang anak untuk menemaninya, menjadi anak asuh karena ketiga anak beliau sudah berkeluarga semua. Dan kebetulan beliau seorang guru dan suaminya seorang pegawai kepemerintahan, pasangan suami istri yang sudah terbiasa membantu anak-anak yang tidak mampu dan berprestasi.
Dan hari selanjutnya Marwah pulang ke Bantul serta datang ke sekolah lama mengurus kepindahan sekolah. Ketika datang ke sekolah Marwah dipanggil ke ruangan BP ditanyain oleh guru,kenapa kok pindah sekolah padahal di sini kamu berprestasi, dan Marwah menjawab “ Saya tidak tahu, ini semua atas kehendak orang tua bu.” Sepertinya para guru juga tidak ingin kehilangan salah satu anak didiknya yang berprestasi tapi ya bagaimana sudah menjadi kehendak orang tua siswa, dan Marwah pun sebenarnya enggan meninggalkan sekolah dan teman-teman  yang sudah bersahabat. Dulu Marwah agak tomboy dan sedikit kemayu, terus badannya kecil.
Akhirnya Marwah pindah sekolah di kota Purworejo, dan di beri pilihan mau masuk sekolah negeri favorit pertama atau sekolah negeri favorit ke dua di kota Purworejo. SMP favorit pertama yaitu SMP N 2 Purworejo dan SMP favorit ke dua adalah SMP N 1 Pueworejo, dan akhirnya Marwah memilih SMP N 1 Purworejo yang lebih dekat dari rumah, sehingga Marwah kalau berangkat sekolah jalan kaki saja. Pada hari pertama masuk sekolah baru Marwah jadi pusat perhatian, dan jadi nervest juga, soalnya para guru ketika mengenalkan pada murid-murid yang lain dengan cara begini, “ Perkenalkan teman-teman ada artis dari Bantul.” Marwah jadi malu, tapi beruntunglah semua teman-teman cukup baik dan bersahabat. Marwah pun cepet punya banyak teman, tapi dalam mengikuti pelajaran perlu penyesuaian lagi. Ternyata sekolah Marwah yang lama cukup berkualitas dan disiplin, di sekolah yang baru lebih berkualitas pendidikannya dan lebih disiplin. Anak-anaknya pun jauh lebih cerdas-cerdas. Disekolah lama Marwah bisa jadi juara kelas, tapi di sekolah yang baru Marwah Cuma bertahan menjadi sepuluh besar beturut-turut.




Yang menjadi wow amazing di sekolah baru, ketika Marwah mendapatkan nilai tertinggi pada ulangan harian, yaitu pelajaran IPS yang ketika masih dalam masa penyesuaian nilai ulangan Marwah selalu rendah, dan guru selalu bilang “ Memangnya di Bantul tidak ada pelajaran seperti ini ya.” Marwah cuma diam dan berfikir “aku akan buktikan, aku pasti bisa” , Marwah mulai meningkatkan belajar membuat rangkuman untuk menghafal pada kertas kecil, tapi bukan untuk menyontek lho, untuk dibaca berulang-ulang dan sampai kalau belajar tengah malam itu bangun, ketika orang-orang sudah pada tidur Marwah belajar. Ketika paginya ulangan semua soal yang diberikan sudah diluar kepala Marwah, sudah hafal semua dan dengan lancar menyelesaikan soal yang diberikan.Waktu itu materi pelajaran untuk ulangan yaitu peta buta Benua Eropa, disuruh menyebutkan negara beserta ibu kotanya sesuai letaknya, Marwah cuma ada kesalahan satu yaitu Laut Artika yang itu sebenarnya tidak pernah diajarkan, karena waktu itu jika ada yang bisa menjawab dengan benar semua akan diberi hadiah uang dan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang guru juga kan, hanya untuk memberi motivasi agar anak didiknya rajin belajar. Waktu itu jawaban Marwah benar semua kecuali Laut Artika dan Marwah mendapatkan nilai 9,8 . Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang meremehkan diri kita jadikan pemacu semangat dalam hal apapun.
Dan kejadian yang memalukan adalah ketika pelajaran matematika, pelajaran favorit Marwah karena senang berhitung menggunakan rumus-rumus. Waktu itu guru matematika di kelas oleh Pak Tejo, seorang guru yang cukup muda,cakep smart dan disipin. Ketika diberikan tugas rumah Marwah selalu mengerjakan dengan rapi, itu pak guru seneng kalau muridnya rajin dan kalem-kalem saja. Tapi ketika suatu hari Marwah diberi tugas rumah, Marwah mengerjakan tugas tapi keliru kelompatan halaman yang belum diajarkan sudah dikerjakan, dan tugas yang diberikan malah belum dikerjakan, sama saja tidak mengerjakan tugas kan. Marwah dilempar kapur tulis dan disuruh keluar dari ruang kelas gak boleh mengikuti pelajaran. Marwah pergi ke perpustakaan sambil baca-baca buku, ditanyain oleh guru penjaga perpustakaan “kenapa jam pelajaran kok disini ? “ dan Marwah jawab “ Lupa tidak mengerjakan tugas “ Marwah sambil baca buku dan instropeksi, tiba-tiba ada teman yang nangis keluar dari ruang kelas karena sudah terlambat tidak mengerjakan tugas lagi, terus Marwah duduk bareng di perpustakaan sambil baca buku. Dan Marwah sok menasehati “ Gak usah menangis, saya juga lupa tidak mengerjakan tugas.” Tapi diluar dugaan Marwah ketika nilai ujian 9,5 dan pada raport nilai Matematika Marwah 9 pada caturwulan pertama. Buat Marwah wow amazing banget, karena buat sebagian anak pelajaran matematika adalah sesuatu yang menakutkan dan membosankan, tapi buat Marwah adalah hoby yang memacu semangat belajar.
Tentu saja Marwah gak mau mempermalukan orang tua asuh yang telah menyayangi Marwah seperti anak sendiri dan membiayai sekolah, juga ingin membuat bangga kepada guru wali kelas  yang ternyata teman ibu asuh Marwah. Karena ibu selalu menanyakan perkembangan proses belajar Marwah kepada ibu wali kelas.Terimakasih kepada keluarga Bapak/Ibu H. Annar Sukiran yang telah menjadi orang tua asuh Marwah , yang telah dengan sabar mengasuh Marwah meskipun cuma sebentar, karena rasa cinta dan kasih sayang Marwah kepada orang tua kandung sendiri lebih besar, sehingga Marwah memutuskan untuk kembali pulang ke Bantul. Padahal beliau sangat menyayangi Marwah melebihi kasih sayang orang tua Marwah sendiri, dan hidup berkecukupan, lebih teratur dan disiplin.

Terimakasih telah menyayangi Marwah dan atas kepercayaannya ingin mengasuh hingga ke perguruan tinggi, Marwah tidak bermaksud menolak kebaikan keluarga Bpk/Ibu H.Annar yang benar-benar tulus ingin membahagiakan dan membantu mewujudkan cita-cita. Marwah mengucapkan maaf apabila membuat Ibu kecewa pada waktu itu menjelang kelulusan dari SMP N 1 Purworejo, dan merayu Marwah agar tetap tinggal di Purworejo di beri pilihan mau melanjutkan sekolah di SMKK atau di SMA N 3 Purworejo yang termasuk SMA favorit di Purworejo juga lebih dekat dengan rumah, yang bersebelahan dengan SMP N 1 Purworejo. Kalau waktu itu Marwah jadi masuk SMA 3,sekolahnya cuma begeser sejengkal saja. Waktu itu nilai NEM Marwah lumayan tinggi yaitu 42,47.
Rahasianya agar bisa sukses menempuh ujian yaitu dengan hidup yang teratur dan istirahat yang cukup, itu yang diajarkan oleh Ibu asuh. Setiap pulang sekolah, sehabis makan siang ibu selalu menganjurkan untuk tidur siang meski sebentar, minimal satu jam. Baru setelah bangun tidur boleh membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah maghrib Marwah makan malam bersama bapak dan ibu, setelah sholat beliau mengaji dan Marwah masuk kamar untuk belajar, sampai jam 9 malam lalu tidur dan nanti tengah malam sekitar jam satu bangun untuk belajar lagi sekitar satu jam dan kembali tidur, lalu bangun jam 5 pagi. Dengan pola hidup yang teratur maka badan kita akan sehat, yang dulunya ketika dikampung, Marwah badannya kurus, hitam dan setelah di kota tinggal bersama keluarga bpk/ibu H. Annar menjadi sedikit gemuk dan kulitnya pun menjadi putih bersih. Dan yang dulunya agak tomboy dan sedikit kemayu terjadi perubahan menjadi sedikit feminim, sedikit kalem,dan sedikit dewasa.
Dapat diambil kesimpulan bahwa pola asuh sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mental, juga karakter seseorang.
Ada cerita yang menarik dalam menempuh ujian PRA EBTA dan EBTANAS, karena Marwah disekolah selalu memperhatikan setiap pelajaran yang diajarkan oleh guru dan duduknya pun paling depan, sehingga semua pelajaran dengan mudah terekam di kepala. Pada saat ujian PRA EBTA yang mendebarkan Marwah benar-benar berjuang belajar semaksimal mungkin dan hasilnya lumayan yaitu 42,44. Dan ketika menempuh ujian EBTANAS malah tidak begitu mendebarkan, soal hampir mirip pada soal ujian PRA EBTA. Dalam mengerjakan ujian hanya seperti mengulang saja dan dengan lancar menyelesaikan ujian tersebut. Hasil ujian EBTANAS pun tak jauh dari hasil PRA EBTA, yang tadinya 42,44 menjadi 42,47. Marwah bersyukur dan seneng banget, di sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa belajar itu tidak bisa sekaligus hanya ketika akan ujian saja, tetapi secara bertahap sedikit demi sedikit dan ketika seorang guru memberikan pelajaran kita memperhatikan dan memahaminya sehingga mudah di cerna dan mudah terekam di memori otak kita.
Setelah lulus sekolah menengah pertama dari SMP N 1 Purworejo, Marwah pulang ke Bantul dan tentu saja orang tua marah karena siapapun orang tua kita ingin yang terbaik untuk anaknya, entah dengan cara apapun. Ibu kandung Marwah marah karena dah menyia-nyiakan kesempatan yang jarang dimiliki anak lain, dan ibu kandung Marwah mau menyekolahkan asalkan mau masuk sekolah SMKK. Sedangkan Marwah waktu itu ingin masuk SMEA, mau gak mau harus nurut orang tua yang membiayai sekolah dari pada tidak sekolah.
Dan akhirnya Marwah dengan teman-teman mendaftar sekolah di SMK N 1 Sewon Bantul, tanpa didampingi orang tua. Marwah pun diterima disekolah tersebut, dan menduduki peringkat ke 2 nilai tertinggi dari kesekian siswa yang diterima. Peringkat pertama dengan nilai 43 koma berapa, dan Marwah peringkat ke dua dengan nilai 42,47. Kebetulan kami berdua masuk satu kelas dalam pembagian kelas, Marwah masuk pada kelas I Busana 1.
Marwah masuk ke SMKK karena paksaan orang tua, maka belajar pun tidak maksimal sehingga prestasi pun menurun. Nilai lumayan tinggi tapi tidak pernah lagi jadi juara kelas. Tapi Marwah tetap berusaha sebisa mungkin semampunya, dan pelajaran yang menarik minat Marwah dan nilainya pun agak menonjol yaitu pelajaran bahasa inggris, peragaan atau fashion show, desain dan pelajaran etika komunikasi.
Di kelas dua ini yang menjadi awal cerita Marwah menggunakan hijab, karena sekolah negeri sehingga seragamnya bebas, dalam artian tidak semua siswa perempuan berjilbab. Tetapi setelah kelas dua ketika pelajaran Agama Islam, semua siswa perempuan diwajibkan menggunakan jilbab. Marwah pun mulai menjaitkan seragam muslim, dan ketika pertama memakai kok terasa lebih nyaman, lebih sopan dan lebih asik aja. Selanjutnya keterusan memakai seragam muslim sampai kelas tiga dan sampai lulus, meskipun masih kadang dibuka ketika ada pelajaran fashion show peragaan busana hasil karya sendiri.



Begitulah sekilas perubahan Marwah berhijab, dan setelah lulus Marwah mendapat bea siswa untuk masuk kuliah, tapi disisi lain Marwah dah terlanjur daftar bekerja di luar negeri, yang waktu itu pihak depnaker promosi ke sekolah. Hidup Marwah selalu dihadapkan dua pilihan, dan minta pendapat ke orang tua mau pilih kuliah atau kerja. Dan akhirnya Marwah memutuskan untuk bekerja karena belum punya cukup biaya, akhirnya keterusan asyik bekerja dari perusahaan ke perusahaan sampai 14 tahun, dan akhirnya baru sekarang di tahun 2014 menetapkan hati untuk konsentrasi kuliah di Akademi Bahasa Asing dan Sinematografi.

“ Hidup adalah pilihan maka kita harus pandai-pandai memilih

“  Menuntut ilmu itu tiada batasan umur, ruang dan waktu. Kehidupan itu sendiri adalah   sebuah pelajaran, maka teruslah belajar jangan putus asa. “


Semoga pengalaman belajar Marwah bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk teman-teman semua.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar